mencoba kemustahilan untuk mengetahui dimana batas kemungkinan"* (Sultan Muhammad Al-Fatih)

*"Kita harus selalu mencoba kemustahilan untuk mengetahui dimana batas kemungkinan"*
(Sultan Muhammad Al-Fatih)

Ucapan itu disampaikan sultan berusia 21 tahun ini ketika ia merealisasikan rencana gilanya, untuk mengangkut 70 kapal perang menaiki bukit Galata, setelah melihat kenyataan bahwa kapal tidak bisa menembus jalur laut karena blokade rantai raksasa.

Ketika penaklukan itu terjadi, dia baru berusia 21 tahun lebih 2 bulan (Kalender Masehi - sekitar 22 tahun Kalender Hijriyah), hafal Al-Qur’an sejak belia, menguasai tujuh bahasa dan berbagai bidang keilmuan yang ada pada jamannya.

Ia tidak pernah meninggalkan sholat jamaah sebagaimana dia juga perintahkan ke seluruh prajuritnya.

Ia tidak pernah melihat pundak orang lain di depannya ketika shalat jamaah. Dan bahkan dia sendiri tidak pernah meninggalkan sholat malam sejak aqil baligh.

Meski pun berbagai cara untuk penaklukan Konstatinopel (kota paling prestisius pada masanya) dilakukan sejak beberapa generasi sebelumnya tanpa membuahkan hasil, cerita bahwa suatu saat Konstatinopel akan bisa ditaklukkan ini dahulu diteruskan dari generasi ke generasi pada jamannya.

Maka wujudlah Sabda Baginda,

*"Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin pasukan adalah pemimpin pasukannya dan sebaik-baik pasukan-adalah pasukannya”*
(HR. Ahmad)

Share:

No comments:

Post a Comment

Blogroll

banner image

Popular Posts

Recent Posts

Pages